Links
Google
 
Showing posts with label Umum. Show all posts
Showing posts with label Umum. Show all posts

Friday, October 19, 2007

Batak on Banknote of Bank Indonesia



Name of Currency : Banknote of Bank Indonesia
Serial / Issue : Handicraft Series / 1964
Denomination : Rp 25
Period / Era : RI Period
Material : Paper
Signed by : Jusuf Muda Dalam dan Hertatijanto



Date

- Issue : 21 May 1965
- Drawing : 13 June 1966



Major Color

- Front : Green / Brown
- Back : Green / Orange



Size

- Length x Width : 150 x 75 mm



Characteristics

- Front : Woman weaving from Batak/Toba (North Sumatera)
- Back : Traditional house of Batak/Toba (North Sumatera)
- Watermark : Without watermark



Others : Reprinted from the previous money

Tuesday, April 17, 2007

Batakologi


KURIKULUM BATAKOLOGI

SMK Negeri 1 Laguboti yang saat ini dipimpin Bapak Marubat Sitorus,S.Pd,dan juga selaku ketua Lembaga Batakologi Kabupaten Toba Samosir yang bergerak dalam pengembangan Seni dan Budaya Batak saat ini dipercayai oleh Pemerintah Kabupaten Toba Samosir untuk menyusun KURIKULUM BATAKOLOGI yang akan diwajibkan masuk dalam Kurikulum Sekolah mulai dari SD s/d SLTA se_Kabupaten Toba Samosir.

Penyusunan Kurikulum tersebut didasari dengan melihat keadaan Budaya Batak Toba pada saat ini semakin memperihatinkan kelestariaanya dan banyak yang melenceng dari rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh pendahulu orang batak (RAJA BATAK).

Dalam Kurikulum Batakologi ini terdiri dari 3 garis besar pembelajaran yaitu terdiri dari :
1. Pelestarian Bahasa
2. Pelestarian Adat dan
3. Pelestarian Seni

Untuk SMK Negeri 1 Laguboti yang merupakan sebuah Sekolah Menengah Kejuruan Seni dan Budaya dalam hal ini memiliki banyak peran dan tanggung jawab dalam Pelestarian Seni Batak Toba sangat mendukung adanya Kurikulum ini. Karena saat ini, produk-produk Karya siswa yang dihasilkan masih sedikit sekali yang bernuansa Seni Batak seperti:

TUNGGAL PANALUAN
.

MOTIF GORGA


Sampai saat ini karya-karya yang dihasilkan oleh siswa maupun guru masih mencaplok atau dapat dikatakan meniru karya-karya produk yang bermotif/bercorak dari Jawa yang sudah nasional (umum).

Untuk itu Bupati Toba Samosir melalui Kepala Dinas Pendidikan Nasional mengharapkan Kurikulum Batakologi ini dapat selesai akhir Juni 2006 untuk dapat diterapkan mulai Tahun Ajaran 2006/2007.

Jamotton SMK Negeri 1 Laguboti

Tuesday, April 3, 2007

Keajaiban Pesona Samosir

Inilah Keajaiban Pesona Samosir Datanglah !

Sinar Indonesia Baru

Written by Redaksi
Mar 31, 2007 at 10:27 PM


Kabupaten Samosir terdiri dari danau, lembah dan bukit, memiliki obyek dan daya tarik wisata yang beraneka ragam, baik budaya maupun alam yang masih asli dan alamiah. Inilah ciri khas dan pesona tersendiri untuk dikunjungi. Kepada 350 orang peserta jubileum 50 tahun CCA dari Asia, pesona keindahan Samosir dengan Danau Toba inipun diperkenalkan secara langsung oleh bupati maupun melalui buklet yang dipajang di Stand di arena Conference di Danau Toba Cottage Parapat, 3-6 Maret lalu.

Para pimpinan dan utusan gereja-gereja di Asia itupun terkagum-kagum melihat keindahan alam dan budaya yang asli itu, maupun peninggalan sejarah yang khas, langka yang belum tentu ada di daerah lain. Bupati Samosir Ir Mangindar Simbolon pun menetapkan Visi Kabupaten Samosir. “Menjadi Kabupaten Pariwisata tahun 2010 yang didukung oleh agribisnis yang ramah lingkungan”.

Inilah Samosir, sebuah Pulau Vulkanik di tengah-tengah Danau Toba Propinsi Sumut. Sebuah pulau dalam pulau dengan ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut. Kabupaten ini baru dimekarkan tahun 2003 lalu dari Kabupaten Toba Samosir, memiliki 9 kecamatan, yakni Pangururan, Simanindo, Sianjur Mulamula, Ronggur Nihuta, Harian, Palipi, Nainggolan, Onan Runggu dan Sitio-tio.

Meski pulau di dalam pulau, tapi Pulau Samsoir ini terlihat berdiri tegar, kokoh dipandang dari Parapat, sehingga membuat wisatawan kepingin cepat-cepat menginjakkan kakinya ke pulau ini. Pengunjung setiap saat bisa menyeberangi Danau Toba dengan Perahu bermesin dari dermaga Parapat. Samosir yang terletak di tengah-tengah danau hanya satu-satunya di dunia ini mempunyai luas 627 Km2 dengan perjalanan kurang lebih 45 menit dari Parapt. Samosir dapat juga disebut sebagai pusat dari kebudayaan Batak.

Menurut sejarah, si Raja Batak berasal dari Sianjur mula-mula yang dipercayai sebagai asal mulanya nenek moyang orang Batak. Nenek moyang orang Batak disebut datang dari Thailand, menuju Sumatera melalui semenanjung Malaysia dan akhirnya menghuni Sianjur mula-mula. Raja Batak diperkirakan hidup sekitar awal abad ke 13. Versi lain mengatakan dari India melalui Barus atau dari Alas Gayo berkelana ke selatan hingga bermukim di pinggir Danau Toba sekitar tahun 1200, awal abad 13. Sebutan Raja Batak diberikan oleh keturunannya sebagai penghormatan, bukan karena dia seorang raja.

Begitu kita sampai di Pulau Samosir ini, maka kita akan disambut dengan ucapan HORAS. Ucapan ini salam khas orang Batak yang berarti “Selamat”, salam sejahtera. Kata Horas bisa juga berarti selamat jalan atau selamat datang sehingga karena populernya ucapan ini sehingga orang yang bukan Batak pun jika bertemu dengan orang Batak selalu mengucapkan kata Horas ini. Itu pertanda keakraban.

Raja Sisingamangaraja XII salah satu keturunan si Raja Batak yang merupakan generasi ke 19 (Wafat tahun 1907), maka anaknya bernama si Raja Buntal adalah generasi ke 20. Sebutan raja sebagai penghormatan meskipun tidak memiliki wilayah kerajaan dan rakyat yang diperintah. Anak si Raja Batak ada 3 orang, yaitu Guru Tateabulan, Raja Isumbaon dan Toga Laut. Dari ketiga orang inilah dipercaya terbentuknya marga-marga Batak.


RUMAH BATAK DAN ULOS

Rumah Batak dengan jenis rumah panggung, atap terbuat dari ijuk, pintu masuk dari bawah. Rumah Batak ini dipenuhi ukir-ukiran dihiasai patung. Walau tak menggunakan paku, rumah Batak ini berdiri kokoh dan tahan terhadap gempa. Rumah adat Batak berbentuk empat persegi panjang. Untuk memasuki rumah harus menaiki tangga yang yang terletak di tengah rumah dengan jumlah anak tangga yang ganjil, sehingga jika mau masuk ke rumah harus menundukkan kepala agar tidak terbentur pada balok yang melintang. Hal ini diartikan, tamu harus menghormati si pemilik rumah. Lantai rumah sampai 1,75 meter di atas tanah dan bagian bawah tempat kandang peliharaan.

Ulos adalah kain khas suku Batak. Secara harafiah, ulos berarti selimut, pemberi kehangatan badan dari terpaan udara dingin. Menurut pemikiran leluhur orang Batak ada 3 sumber kehangatan, pertama matahari, kedua api dan ketiga ulos. Dari ketiga itu, Ulos dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari. Matahari sebagai sumber utama kehangatan tidak kita peroleh pada malam hari dan api dapat menjadi bencana jika lalai menggunakannya.

Dalam pengertian adat Batak “mangulosi” (memberikan ulos) melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima Ulos. Biasanya pemberi ulos adalah orangtua kepada anak-anaknya, hula-hula kepada boru. Ulos terdiri dari berbagai jenis dan motif yang masing-masing memiliki makna tersendiri, kapan digunakan dan kepada siapa disampaikan. Ulos juga diberikan kepada yang bukan orang Batak yang diartikan sebagai penghormatan dan kasih sayang.

GONDANG, TARIAN DAN KERAJINAN TANGAN
Obyek wisata budaya di Samosir juga bisa kita lihat disetiap pesta adat bagi orangtua yang meninggal dan menggali tulang belulang selalu digunakan “Gondang” sebagai alat musik khas Batak. Gondang itu terdiri dari Sarune bolon, garattung, hasapi, seruling, ogung dan hesek. Jika sudah dibunyikan Gondang, tentulah ada yang manortor (menari), seperti Tortor mangalahat Horbo (mengikat kerbau di halaman rumah tempat penyelenggaraan acara), Tortor ini diartikan sebagai mengawali acara. Kerajinan tangan berupa ukiran patung dan miniatur rumah batak serta gondang bisa kita bawa pulang
sebagai souvenir.

Potensi wisata alam dan budaya yang bertebar di 9 kecamatan ini sangat indah dan asik untuk dikunjungi. Jika kita ke Kecamatan Pangururan sebagai ibukota kabupaten, maka kita akan bisa melihat “terusan tano ponggol” yang memisahkan Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera yang digali pada masa penjajahan Belanda, terus kita ke pegunungan “pusuk buhit” dengan pemandian air panas mengandung belerang yang konon bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit kulit.

Kecamatan Simanindo yang berpenduduk lebih kurang 20.264 jiwa, inilah salah satu pintu masuk Pulau Samosir, persisnya di Tomok, sekitar 9 Km dari Parapat. Ada makam Raja Sidabutar yang terbuat dari batu alam utuh tanpa sambungan, ada lagi museum Hutabolon tempat menyimpan benda-benda kuno yang sudah berusia ratusan tahun. Ada batu kursi persidangan Siallagan di desa Siallagan yang dikelilingi batu-batu alam yang disusun setinggi 1,5 meter dan paling tersohor pertunjukan si gale-gale. Alam Pulau Tao indah di tengah Danau Toba sekitar 30 Km dari Parapat di pantai Simanindo, juga air terjun Simangande sepanjang 500 meter berasal dari mata air barisan bukit Dolok Simangande Garoga.

Kecamatan Sianjur Mula mula persis di bawah kaki bukit pusuk buhit yang merupakan perkampungan pertama masyarakat Batak, disana ada aek Bintatar yang menurut cerita masyarakat setempat masih berkaitan dengan keberadaan Raja Batak. Pebukitan 1800 meter di atas permukaan Danau Toba, konon disitulah pertama kalinya alam semesta atau “Mulajadi nabolon” menampakkan diri hingga kini masih dianggap keramat. Ada lagi batu Hobon, sebuah peti batu alami besar berbentuk kuburan yang dibuat ratusan tahun lalu oleh pandai besi, Saribu Raja, serta bisa dijumpai patung Guru Tatea Bulan, Raja Isombaon dan Toga Laut.

Kecamatan Ronggur Nihuta dengan penduduk 9.043 jiwa berlokasi di dataran tinggi beriklim dingin dengan hembusan angin yang kuat memiliki keajaiban tersendiri yakni “Danau di atas Danau” yang dinamai Danau Sidihoni, dikelilingi bukit landai berwarnai hijau muda. Kecamatan Harian, yang berada di pinggir Danau Toba dengan curah hujan yang cukup tinggi dengan penduduk 8032 jiwa, pencaharian warga dari budi daya ikan tawar, tapi disana juga ada menara pandang Tele setinggi 12 meter, juga air terjun Sampuran Efrata di Sosor Dolok.

Kecamatan Palipi juga berada di tepi Danau Toba berpenduduk 17.500 jiwa juga merupakan obyek wisata rohani umat Katolik, disana ada Gua Bunda Maria, pemandian air panas Simbolon dan Piso Somalim. Kecamatan Nainggolan dengan penduduk 14.908 memiliki pantai Maria Raja yang cukup indah bebas panorama alamnya dengan pasir putih. Kecamatan Onan Runggu dengan penduduk 11.919 jiwa memiliki pantai Sukean cocok untuk mandi dan berjemur di atas pasir putih, juga ada pohon paling besar disebut Pohon Sukkean, tarus lagundi Sitamiang lokasi perkemahan bagi remaja pramuka dan pemandian Tambun Surlau.

Kecamatan Sitio-Tio berpenduduk 8295 jiwa memiliki “Mual datu parngongo” merupakan mata air bertuah berjarak 4 km dari dermaga Tamba, ada pula “Goa datu parngongo” sebagai tempat bersemedi yang terdapat di lereng bukit yang sangat curam, serta Mual boru Sarunding, tempat pemandian bertuah di Ransangbosi sekitar 35 km dari Pangururan. Pulau Samosir memang sebuah Pulau penuh keajaiban dan berkat bagi masyarakat Batak sebagai obyek wisata yang indah dan nyaman,—datanglah. (l)

Monday, April 2, 2007

Samosir

Samosir
Video Clip




From Wikipedia, the free encyclopedia

Samosir
Samosir is located in the middle of Lake Toba.
Samosir is located in the middle of Lake Toba.
Geography
Location South East Asia
Coordinates 2°35′N 98°49′E
Administration
Flag of Indonesia Indonesia

Samosir, or Pulau Samosir, is a large volcanic island in Lake Toba. Lake Toba is located in the north of the island of Sumatra in Indonesia.

The lake and island were formed after the eruption of a super volcano some 75 000 years ago, in what was the last recorded 'supervolcano' explosion. [1] The island was originally connected to the surrounding caldera wall by a small isthmus, which was cut through to aid navigation.

At 630km², Samosir is also notable as being the largest island within an island, and the fourth largest lake island in the world. [2]

Samosir is a popular tourist destination due to the fantastic vistas it offers. The tourist resorts are concentrated in the Tuktuk area. The island is the centre of the Batak culture and many of this people's artifacts remain on the island.

Tuesday, March 27, 2007

Batak















Batak (Indonesia)
From Wikipedia, the free encyclopedia

Total population
6 million (2000 census)

Regions with significant populations
North Sumatra: 4.9 million

Languages
Batak languages (Alas-Kluet, Angkola, Dairi, Karo, Mandailing, Simalungun, Toba), Malay, Indonesian

Religions
Christian, Muslim, Parmalim, Hinduism

Related ethnic groups
Malay


Batak is a collective term used to identify a number of ethnic groups found in the highlands of North Sumatra Indonesia. Their heartland lies to the west of Medan centred on Lake Toba. In fact the "Batak" include several groups with distinct, albeit related, languages and customs (adat). While the term is used to include the Toba, Karo, Pak Pak, Simalungun, Angkola and Mandailing groups, some of these peoples prefer not to be known as Batak.

Before they became subjects of the colonial Dutch East Indies government, the Batak had a reputation for being fierce warriors. Afterwards Christianity was embraced widely, and the HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Christian church is presently the largest Christian congregation in Indonesia.

Batak societies are patriarchal organized along clans known as Marga. The Toba Batak believe that they originate from one ancestor "Si Raja Batak", with all Margas, descended from him. A family tree that defines the father-son relationship among Batak people is called tarombo. For detailed information about Batak Marga check www.tarombo.net. Toba Batak are known traditionally for their weaving, wood carving and especially ornate stone tombs. Their burial and marriage traditions are very rich and complex. The burial tradition includes a ceremony in which the bones of one's ancestors are reinterred several years after death. This secondary burial is known among the Toba Batak as (mangongkal holi).

The Batak themselves today are mostly Christian with a Muslim minority. The dominant Christian theology was brought by Lutheran German missionaries in the 19th century. One of the most famous German missionaries involved was Ludwig Ingwer Nommensen. Christianity was introduced to the Karo by Dutch Calvinist missionaries and their largest church is the GBKP (Gereja Batak Karo Protestan), but there is a considerable Muslim minority. Mandailing Batak were converted to Islam in the early 19th century.

Batak speak a variety of closely related languages, all members of the Austronesian language family. There are two major branches, a northern branch comprising the Pakpak and Karo languages that are similar to each other but distinctly different from the languages of the southern branch comprising three mutually intelligible dialects: Toba, Angkola and Mandailing. Simalungun Batak is an early offspring of the southern branch. Some Simalungun dialects can be understood by speakers of Karo Batak whereas other dialects of Simalungun can be understood by speakers of Toba. This is due to the existence of a linguistic continuum that often blurres the lines between the six Batak dialects.